DICARI TANAMAN JERUK BERPENYAKIT CVPD (citrus vein phloem degeneration)
Posted by organikhijau on March 28 2009 10:40:23
CVPD merupakan penyakit penyebab utama kehilangan hasil perkebunan jeruk di hampir semua negara Asia dan Afrika. Akibat CVPD, Afrika Selatan merugi hingga 30-100%, Filipina lebih dari 60%, Thailand lebih dari 95%, yang terparah jeruk manis dan mandarin di Arab Saudi bagian tenggara, kini punah sudah.
Extended News

CVPD merupakan penyakit penyebab utama kehilangan hasil perkebunan jeruk di hampir semua negara Asia dan Afrika. Akibat CVPD, Afrika Selatan merugi hingga 30-100%, Filipina lebih dari 60%, Thailand lebih dari 95%, yang terparah jeruk manis dan mandarin di Arab Saudi bagian tenggara, kini punah sudah.

Di Indonesia, penyakit ini menyerang sejak 1940-an. Hampir di seluruh provinsi. Di Tulungagung, misalnya, 62,34% perkebunan jeruk dan di Bali Utara sampai 60%. Untuk penyebaran CVPD di areal pertanaman di Bali saja mencapai 95.564 ha dalam kurun waktu 1988 sampai 1996. Serangan penyakit CVPD di Bali diperkirakan menelan kerugian mencapai Rp36 miliar pada 1984.

Sentra pengembangan jeruk di Bali kemudian dipindahkan ke Kabupaten Bangli. Namun, serangan penyakit CVPD, tak kunjung surut. Hama itu rupanya juga ikut pindah dan sentra jeruk Bali yang baru, kembali diserang hama itu sehingga nilai produksi yang diperkirakan pernah mencapai Rp400 miliar, pada 1998 turun drastis.

Masalah jeruk, penyakitnya atau musuh utamanya yang dikenal di Indonesia adalah CVPD. Jeruk Tejakula, jeruk Siam Kintamani, dan di Jawa Barat jeruk Garut (tersisa 12 tanaman induk terkontaminasi), semuanya sudah/hampir habis. Penelitian menunjukkkan 83% penyakit tersebut disebarkan, ditularkan melalui bibit, karena memang:

1). Sangat sulit mencari tanaman hidup yang betul-betul sehat.

2). Perilaku masyarakat, animo yang begitu tinggi untuk menanam jeruk menyebabkan kekuatan benih jeruk, terlupakan kesehatannya. Bahkan banyak petani justru membeli bibit yang murah, sering diistilahkan dengan tiga seribu, bibit yang sudah sakit.

3).Pelabelan oleh dinas terkait atau instansi yang berwenang, dilakukan hanya berdasarkan pengamatan morfologi. Ketika tahun 80-an belum ada peralatan teknologi untuk mendeteksi penyebab penyakitnya, gejalanya tidak muncul, maka tidak bisa terdeteksi hingga di label begitu saja dikatakan sehat. Namun di Bali mencari pohon sehat yang sulit, karena hampir semua pohon terinfeksi penyakit, sebab asal benihnya menggunakan okulasi, penempelan. Mata tempel yang diambil dari ranting pohon jeruk di perkebunan, di sana sebagian besar terserang. Jika mata tempel ini sudah mengandung bakteri penyebab penyakitnya maka bibit yang dihasilkan juga demikian. Penyebab penyakit CVPD bukan virus tetapi binatang kecil yang tidak terlihat, bakteri yang tinggal di dalam sel tanaman jeruk. Sementara bakteri ini belum bisa dikendalikan dengan obat-obatan, sehingga penanggulangan dengan bahan obat pembasmi hama juga belum bisa.

Diakui, produktivitas yang rendah ini a.l. disebabkan serangan penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) yang ditularkan oleh serangga vektor Diaphorina citri Kuwayana.

Ketidakjujuran Oknum?

Jeruk , pernah jaya tahun 80-an. Masalah rekayasa genetika mungkin murni. Praktiknya, seperti pembibitan memakai jeruk citrun sampai penempelan, untuk labelnya rupanya ada akal muslihat dari Dinas Pertanian. Bibit yang sudah rusak diberi label oleh Dinas Pertanian dijual lebih mahal atau harganya dinaikkan. Ada ketidakjujuran oknum, sehingga petani yang membeli, setelah berjalan 2-3 tahun tumbuh dan berbuah, begitu ke tahun berikutnya mati. Ada juga yang mengatakan penyakit citrus vein phloem degeneration (CVPD) yang mematikan ternyata bukan virus tetapi sebenarnya binatang kecil yang tidak bisa dilihat. Proposal untuk mengembalikan atau mengisolir binatang ini terbukti hanya bertahan beberapa tahun di daerah dingin, seperti Kintamani. Masalah nuktah, asli daripada suatu spesies, apakah itu gen, apakah berkaitan dengan rekayasa genetika?

Penanganan CVPD yang sudah pernah dilakukan :

1) Kalau akhir tahun 1970an para ahli penyakit jeruk menganjurkan program penanganan CVPD melalui infus dengan cairan teramysin pada batang dan ternyata gagal

2) Petani relatif sederhana. Mereka menanam siyem dengan benih yang sudah setinggi 1,5 meter. Hingga dipastikan umur 1,5 tahun sudah akan berbuah. Biasanya gejala penyakit CVPD akan mulai tampak pada umur 3 tahun setelah tanam. Dalam satu areal tanaman, biasanya hanya akan ada satu dua tanaman yang menunjukkan gejala CVPD. Individu tanaman yang terserang ini segera dicabut dan dimusnahkan (dieradikasi). Kalau gangguan CVPD ini cukup serius dan menyerang seluruh areal tanam, biasanya dampak gangguan baru akan terasa pada umur 7 tahun. Ketika itulah seluruh areal tanaman akan dibongkar untuk ditanami dengan komoditas lain. Sebab biasanya pada umur tanaman antara 4 sampai 5 tahun, titik impas (BEP) komoditas jeruk sudah tercapai. Hingga meskipun dilakukan pembongkaran total, sebenarnya petani sudah memperoleh keuntungan.

3) Dari sisi pemerintah (Indonesia) segera “memurnikan” klon-klon unggul lokal tersebut serta menyebarluaskan ke masyarakat dengan sistem yang disebut sebagai block foundations. Cara ini demikian mahal dan rumit dan ternyata sambutan petani dingin-dingin saja.

4) Sejak 2004, sudah berhasil dilakukan isolasi gen anti CVPD berkat kerja keras dosen hama dan Penyakit Tanaman, Universitas Udayana, Bali, I Gede Putu Wirawan.

Penanganan CVPD Versi Organik Hijau :

Penyakit CVPD menggangu mulai dari sistem perakaran dan phloem, jalur nutrisi yang berada di tengah/pusat batang, gejalanya terlihat daun tanaman menguning kekurangan hara.

Berdasarkan studi lapangan teknik budidaya yang dikembangkan oleh OH (Organik Hijau) beberapa jenis penyakit yang disebabkan fungi, bakteri, virus atau mahluk bersel tungga dimana pada dinding selnya, mekanisme komunikasi, produksi sel mahluk ini sangat rentan dengan vibrasi/getaran elektrik tertentu.

Selain itu untuk virus biasanya bermuatan ion sehingga apabila dibanjiri dengan muatan ion tertentu menyebabkan virus menjadi non-aktif atau bermuatan netral dan dapat menyebabkan virus terkendali (musnah).

Dengan pendekatan teknik ini OH dapat melakukan sterilisasi lahan yang luas, saat ini sudah diterapkan pada teknik budidaya padi dan palawija sejak 2 tahun terakhir dengan hasil memuaskan.

Langkah-langkah penanganan CVPD Jeruk :

1) Teknik alat injeksi vibrasi pada jalur Xylem dan Phloem pada batang bawah jeruk pada tanaman yg terserang CVPD
2) Teknik Ionisasi daerah perakaran dengan maksud membanjiri ion didaerah perakaran, teknik ini juga dapat meningkatkan efisiensi pemupukkan
3) Pemupukkan organik yang menggunakan biakkan mikroba terkendali untuk pengomposannya sehingga meminimalkan berbagai penyakit akar yang ikut terbawa apabila menggunakan teknik kompos konvensional.
4) Pemupukkan daun dengan teknik vibrasi untuk efisiensi penyerapan hara melalui daun.

Kendala :

1) Dibutuhkan daerah dan tanaman yang terkena endemik CVPD.
2) Akomodasi menginap dilahan untuk 3 hari dengan interval 1 bulan selama 3 bulan.
3) Akomodasi PP dari Kota Cimahi (Base Organik Hijau) ke lokasi endemik
4) Hasil dari ini adalah laporan penanganan berdasarkan pengembangan teknik OH

Catatan :

- alat vibrasi patent dan buatan sendiri OH
- alat ionisasi paten dan buatan sendiri OH
- teknik budidaya OH adalah teknologi murni pertanian organik hasil pengembangan sendiri OH, saat ini belum ada pengembangan dengan teknik/metoda sejenis.

(oleh: Aki Pedo, Aki Pelem, Aki Jantara)