IKON BUDAYA NASIONAL GARUT YANG TERLUPAKAN, SAEH
Posted by organikhijau on March 28 2009 10:43:06
Untuk memperoleh Saeh/kertas daluang (Broussonetia papyryfera Vent) dibutuhkan bahan baku kulit kayu pohon saeh. Pohon ini merupakan tumbuhan tingkat rendah. Ia masih termasuk ke dalam keluarga Moraceae. Diketahui Saeh adalah peninggalan satu-satunya tatar kerajaan sunda yang masih ada.
Extended News
Untuk memperoleh Saeh/kertas daluang (Broussonetiapapyryfera Vent) dibutuhkan bahan baku kulit kayu pohon saeh. Pohon ini merupakan tumbuhan tingkat rendah. Ia masih termasuk ke dalam keluarga Moraceae. Pohon yang tak punya bunga dan buah ini tumbuh di Baemah (Sumatera), pedalaman Sulawesi hingga Pulau Seram, Garut (Jawa Barat), Purwokerto (Jawa Tengah), Ponorogo (Jawa Timur), Pamekasan dan Sumenep (Pulau Madura). Orang Sunda menyebutnya saeh. Orang Madura menyebutnya dhalubang atau dhulubang, sedang orang Sumba menyebutnya kembala. Dahulu, tumbuhan ini ditanam di sekitar masjid agar para santri mudah mengambil dan membuat kertas sendiri untuk keperluan belajarnya.

Menurut K. Heyne (Peneliti Belanda) dalam buku Tumbuhan Berguna Indonesia, pohon saeh diduga berasal dari negeri Cina. Namun bila mencermati daerah persebarannya, terbukti tanaman ini asli indonesia (tropis). Apalagi mempertimbangkan aspek pemanfaatannya yang telah dikenal oleh masyarakat tradisional di nusantara sebagai bahan baku kertas jaman kerajaan nusantara. Ada beberapa spesies tanaman yg berbeda yang tersebar terutama yang terdapat di garut yang berbeda dengan di ponorogo (jatim) atau daerah lainnya.

Selain itu, tumbuhan yang berkembang biak dengan akar rimpang atau geragih ini sangat baik sebagai bahan baku pembuatan kain tradisional. Menurut Heyne, pakaian kulit kayu ini pada masanya sangat digemari masyarakat kita. Baik kaum perempuan maupun kaum adamnya. Terlebih menjadi pakaian tidur, ia memberikan rasa teduh dan nyaman. Saat ini, masih ada beberapa suku di pedalaman Kalimantan (Dayak), Sumatera (Kubu) dan Sulawesi (Banggai) yang masih memproduksi dan memakai pakaian kulit kayu.

Kertas ini terbilang tahan lama, bahkan bisa berumur ratusan tahun. Hal ini terbukti dari fakta kesejarahannya setelah ditemukan beberapa naskah kuno dan perkamen kebudayaan kuno Indonesia di museum-museum di tanah air. Konon, mereka yang menggunakan serat kayu ini menjadi kertas untuk menuliskan tradisi tulis atau mantera-mantera adalah orang-orang suci. Di Bali, kertas Daluang ini hanya boleh digunakan oleh kaum Brahmana, untuk kepentingan upacara ritual masyarakat Hindu sejak abad 3 SM hingga sekarang.

Sejarah kertas ini sudah lama ditemukan oleh arkeologi dan ahli sejarah sastra kuno. Awal kertas Daluang ini dikenal berfungsi sebagai alat Bantu kehidupan sehari-hari, pakaian misalnya. Pada abad ke 3 SM ditemukan sebuah “paneupuk” dari batu (penumbuk kulit kayu) di Desa Cariu, Kabupaten Bogor. Masyarakat jaman itu menamakannya “tapa”, yaitu hasil olahan kulit kayu yang ditumbuk untuk kebutuhan sehari-hari masayarakat di sana. Kemudian, di dalam buku Literatur of Java muncul nama Daluang pada jaman kebudayaan Hindu di Nusantara.

Kertas Daluang ini saat itu digunakan untuk menuliskan cerita wayang beber dalam bentuk gambar-gambar. Dan kertas Daluang ini juga digunakan sebagai pakaian pelengkap para Pandita Hindu.

Pada tahun 1970-an masyarakat Hindu di Bali menggunakan kertas Daluang ini untuk pelaksanaan upacara Ngaben. Daluang di sana menjadi salah satu syarat wajib pelaksanaan upacara Ngaben, yang disimpan di dalam “Kitir” berbentuk kupu-kupu yang berfungsi simbol magis. Konon, “Kitir” itu adalah medium pengantar arwah ke Nirwana.Selain itu juga terdapat “Kajang” dengan bahan dasarnya Daluang ini. “Kajang” di bagi masyarakat Hindu Bali dipakai sebagai penutup jenazah dalam sebuah upacara.

Daluang bagi masyarakat Pacitan, Jawa Tengah, kertas Daluang dibunakan sebagai kertas penulisan cerita Ramayana. Kata “Dalu” berarti malam dan “Wang” berarti orang. “Dalu” + ”Wang” = orang yang bekerja pada malam hari. Mengapa demikian, karena proses pengerjaan kertas Daluang ini dikerjakan oleh kaum Brahmana pada malam hari untuk menuliskan cerita atau teks penting di jamannya. Pada masa kebudayaan Hindu di daerah Kediri, Daluang digunakan untuk menuliskan cerita Panji untuk pergelaran wayang beber. Kemudian pada jaman Keislaman di Nusantara, fungsi Daluang diganti menjadi medium untuk menuliskan ayat-ayat al-Quran atau karya seni kaligrafi. Hal ini juga terjadi di pondok pesantren Jetis, Jawa Timur, bahwa kertas Daluang digunakan oleh para ulama dan santri untuk menuliskan kitab-kitab.

BUTUH PENANGANAN SEGERA

Mang dadan dan Mang Bidin kakak beradik sebagai yang mewarisi budaya Asli Tatar kerajaan sunda ini memberikan beberapa informasi yang mendesak harus ditangani, tradisi pembuatan kertas daluang ini nyaris ditelan masa dari bumi nusantara. Begitu pula dengan keberadaan pohon saeh asli garut. Setelah dilakukan penelusuran literatur dan tanya sana sini, akhirnya ditemukan tradisi pembuatan kertas daluang dan masyarakat pendukungnya. Mereka adalah warga kampung Tunggilis, Desa Cimanuk, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut. Meski tak langsung, mereka disebut-sebut sebagai pewaris tradisi itu.

Pada tahun 1997 itu, keluarga ini menemukan sekitar 10 batang pohon saeh yang dimiliki pewaris tradisi ini. Mereka juga masih punya golok khusus tebas, golok khusus potong, pisau kujang untuk kulit kayu saeh,tasbih batu 200 biji dan kitab yang diwarisi turun-temurun dan tiga buah pameupeuh sebagai alat produksinya. Pameupeuh adalah sejenis alat pemukul. Alat ini digunakaan ketika penyamakan kulit kayu. Terbuat dari campuran logam kuningan dan tembaga yang dicor dengan panjang 10 sentimeter dan empat sentimeter.

Pada saat itu, mereka hampir tidak pernah membuat kertas daluang baik untuk keperluan sendiri atau pun dipasarkan. Mereka hanya membuatnya berdasar pesanan dan jumlahnya kecil.

Dalam pembuatan kertas daluang, sama sekali tak dipakai teknologi yang njelimet. Ia dibuat oleh masyarakat biasa dengan teknologi dan peralatan yang sangat sederhana. Proses pembuatannya dilakukan secara manual dengan cara disamak, diperam dan dijemur di terik matahari.

Meski begitu kertas ini amat bijak sebagai salah satu contoh kekayaan kearifan tradisional masyarakat nusantara terutama proses pembuatannya, alat-alat, dan lainnya (tinta) sangat khas/berbeda dibandingkan dengan daerah lain yang menghasilkan kertas pada jamannya, Yang hingga kini jumlahnya tidak diketahui lagi.

Diketahui saat ini hanya ada dua daerah saja yang mampu menghasilkan kertas daluang yaitu Ponorogo, diketahui saat ini daerah ponorogo kehilangan pewarisnya dan jenis pohon saeh/daluang asli ponorogo turut hilang. Dengan melestarikan daluang tidak semata melestarikan budaya, sistem pengetahuan dan teknologi tradisional tetapi juga aset negara yang hanya tersisa di kampung Tunggelis Garut.

(survei langsung : Mang Deden, Mang Bidin, Aki Pelem, Aki Pedo)