Menu Navigasi
· Beranda
ORGANIK HIJAU
· Organik Hijau
· Program
· Inovasi
· SQ dan EQ
· Petani Penggagas
INOVASI BUDIDAYA
· SIBUPA
· Bibit
· Pupuk Alami
· Pengendali Hayati
· Stress Tanaman
INFORMASI
· Artikel
· Kategori Berita
· Kontak
Artikel Terbaru
Belum tersedia artikel
Masuk
Nama Anggota

Kata Sandi



Bukan anggota kami?
Klik disini untuk register.

Lupa Kata Sandi saya?
meminta sandi disini.
SQ dan EQ

Dari Tuhan kembali ke Tuhan.

Anda harus ingat kita berasal dari Tuhan, roh kita ini berasal dari Tuhan. Kembalipun harus ke Tuhan. Bukan ke yang lain! bukankah bagi manusia harus menyadari kita diberikan jasad untuk lebih mengenal Tuhan. Kenapa itu disia-siakan? diberikan tubuh jasad untuk mengolah menjadi manusia sempurna yaitu manusia yang kenal Tuhannya. Manusia hanya dijadikan dari setetes air, yang kemudian berkembang menjadi besar dan akhirnya mati. Itu merupakan hukum hidup , yang dijadikan oleh Tuhan sendiri tanpa ada yang membantunya. Sudah sepantasnya manusia meyadari betapa gaibnya keadaan alam ini, walaupun nyatanya hanya seperti keadaan sahari-hari.

Andai kata manusia itu hidup berkepanjangan beribu-beribu tahun atau terus-menerus tanpa mati, maka akan disadari bahwa masih juga belum seberapa ilmu yang ia peroleh serta manfaatnya dari ilmu yang ia peroleh selama hidupnya itu. Mengingat hal tersebut sudah sewajarnya bagi manusia menyerahkan diri kepada Tuhan yang menciptakannya.Tidaklah dapat kita pungkiri lagi bahwa sebenarnya manusia tidaklah sanggup mengartikan sesuatu daripada hidupnya ini, selain dari sekedar apa yang ia kira tahu yang belum pasti kebenarannya. Hanya dianggap sebagai suatu keharusan bagi manusia berbuat demikian. Suatu keharusan bagi manusia mempunyai keyakinan tentang adanya kebenaran meskipun manusia tidak dapat menentukan kebenaran yang multak. Manusia hanya sekedar menyadari adanya kebenaran.

Apakah manusia mengetahui tentang kesadaran? Kesadaran pada manusia itu hanya merupakan hukum yang telah ditentukan oleh yang mengatur, ialah Tuhan, Tuhan telah menentukan peraturan-peraturan yang merupakan hukum alam semesta ini.

Sewaktu manusia itu sadar bahwa ia itu ada, hidup dan menyadari tentang segala sesuatu ini, maka itu merupakan suatu hukum, yaitu suatu aturan keadaan sedemikian rupa yang dikehendaki oleh Tuhan dengan adanya aturan keadaan demikian, bagi manusia kebanyakan sulit untuk membayangkan adanya hukum ini termasuk keadaan lainnya, kecuali bagi mereka yang telah dikehendaki oleh Tuhan, ialah mereka yang telah mendekatkan diri pada Tuhan.

Mereka yang telah mendekatkan diri dan telah dapat menembus jalan menuju Tuhan akan mencapai kesadaran-kesadaran lain yang bermacam-macam dan beraneka ragam. Tidaklah heran bila kebanyakan manusia cepat mengambil kesimpulan bahwa yang ada ini hanyalah sekian saja, yaitu sesuai benar dengan tahap kesadaraannya, padahal kesadaran ini bergerak cendrung makin sempit sesuai jenis kesadaran ini.

Pada manusia sungguh masih sedikit sekali kesadarannya, yaitu semenjak tumbuh kesadaraannya. Manusia menyadari bahwa alam ini luasnya hanya sekian yaitu seluas daerah yang dibatasi oleh gunung-gunung disekitarnya, daerah dibalik gunung-gunung itu, tidaklah masuk dalam ingatannya atau kesadaran yang disadarinya hanya sebatas kesadaran jiwanya atau dirinya, seluas pengetahuannya, sedalam pengetahuannya dan sebanyak jenis pengetahuan yang telah ia ketahui, sesuai dengan kemampuan dan bakat kemampuan masing-masing. Maka jelaslah apa yang disadari manusia itu sangat terbatas dan berbeda untuk masing-masing individu. Tidaklah mengherankan apabila manusia itu walaupun telah menanjak dewasa tapi terbatas pengetahuan kesadarannya, maupun keadaaan jiwanya sesuai dengan tanggapannya terhadap alam ini sesuai dengan kemanpuan masing-masing individu, tetapi meskipun demikian dapat dikatakan mempunyai hal-hal yang sama, hampir sama atau mempunyai unsur-unsur kesamaan.

Kadang-kadang orang berpendapat lain tentang sesuatu, walaupun sesuatu itu dalam keadaan tetap, misalanya seseorang pada suatu saat orang itu merasakan bahwa gunung itu sangat tinggi tetapi pada saat lain tidak mengalami perubahan apa-apa. Demikian juga mengenai jauh dan dekat, baik dan buruk dan sebagainya. Dengan demikian segala sesuatu yang disadari manusia itu hanyalah merupakan suatu aturan saja, sehingga masing-masing manusia bisa merasa benar dengan pendapatnya maupun perasaannya.

Pada waktu manusia mendapatkan pengetahuannya ataupun merasa perasaanya, sebenarnya hanyalah merupakan suatu gejala hukum yang hanya bisa difahami pada ketika itu saja, yaitu semasa pendapat atau perasaannya belum berubah. Apabila sudah mengalami perubahan maka dengan sendirinya berubah pula pendapatnya serta perasaannya. Sayangnya manusia tidaklah selalu jujur, bahkan lebih banyak yang tidak jujur, sehingga merasa pendapatnya itu mutlak benar dan tidak dapat berubah lagi.

Sebenarnya tidaklah demikian, andaikata manusia itu berlaku jujur.

Manusia bukanlah manusia bila tidak dapat bersikap jujur, meskipun hal hal yang harus ia tempuh sangat berlainan. Manusia akan dapat mengatasi kebohongannya bila ia bersikap jujur.Tetapi kemauan ini jarang ada, bahkan selalu diperosokan oleh ingatan dan lintasan-lintasan pada jiwa yang bertentangan dengan petunjuk hati yang dapat kita sebut kondisi tergoda setan.

Tidaklah mengherankan bahwa manusia itu walaupun bagaimana pandainya selalu merasa terbentur kepada ketidak tahuan, tetapi hati kecilnya berkata bahwa ia bisa atau harus bisa mengetahui ketidak tahuannya itu, itulah yang kita sebut bakat semangat untuk mau mengetahui. Bakat ini tidak sama kuat pada tiap-tiap individu, tetapi pada tiap orang pasti ada meskipun hanya sendikit. Bakat ini tidak sama luas jangkuannya pada tiap-tiap individu, ada yang sempit adapula yang luas. Bagi mereka yang luas jangkau pikirannya, ia akan merasa bahwa dirinya sebenarnya sangat kecil bila dibandingkan atas kesadaran dirinya dengan kehebatan dan kegaiban alam ini. Tapi bagi mereka yang sempit jangkauan pikirannya ia merasa bahwa dirinya adalah besar dan yang paling penting adalah hanya anggapannya. Maka terjadilah suatu sifat pada manusia ini dimana ia selalu mementingkan diri sendiri, serakah, sombong dan sifat-sifat lainnya yang kurang baik.

Bukanlah suatu kemustahilan bagi mereka yang kuat jangkauan fikirannya selalu berlainan pendapatnya dengan mereka yang sempit jangkauan fikirannya, akan selalu kita jumpai perselisihan faham antara kedua belah pihak. Disinilah sebenarnya manusia itu memainkan rolnya sebagai manusia yang meributkan pahamnya. Kita harus mengetahui pokok pertikaian mereka, yang sebenarnya terletak antara keinginan untuk paham bagian dari semangat ingin tahu berdasarkan petunjuk hati atau cuma diada-adakan saja, semisal apakah alam ini ada dengan sendirinya atau diadakan.

Mengingat hal tersebut diatas manusia dapat memprotes tentang keadaan dirinya atau menerima tentang keadaannya yang disebut berserah diri. Bagi mereka yang memprotes keadaannya akan selalu berusaha menguasai alam ini dengan segenap kekuatannya dan pantang baginya untuk berserah diri. Sedangkan mereka yang menerima keadaaanya, akan berserah diri dan akan lemah dalam penghidupannya tetapi hatinya akan tabah dan bertambah kuat. Tetapi anehnya dalam sifat itu terjalin dalam seseorang, dimana setiap manusia mempunyai sifat yang bertentangan tersebut, entah berapa banyak dan timbangannya manusia. Dengan kedua bentuk tersebut manusia itu apakah tergolong kepada manusia yang memprotes tentang keadaan dirinya atau manusia yang menerima keadaan dirinya.

Pada waktu manusia itu menyadari tentang keadaannya, sebenarnya ia telah mempergunakan alat-alat yang ada pada dirinya sehingga tercapai hasilnya, yaitu kesadaran adanya diri dan segalnya serta kesadaran itu sendiri. Apabila kita bertanya pada seseorang tentang kelahirannya biasanya ia akan menjawab tentang harinya, tanggalnya dan tahunnya. Tetapi bila kita bertanya kepada orang yang telah sampai pada Tuhannya ia akan menjawab bahwa ia adapun tidak, apa lagi dilahirkan, dilahirkan atau tidak dilahirkan sama saja, semuanya tidak ada. Umumnya orang menyangka bahwa ia gila, padalah sebenarnya ia tidak gila, hanya saja kesadaraanya belum kita sadari, karena kesadaran dirinya berlainan dengan kita.

Kesadaran diri atau jiwa manusia biasa berlainan dengan jiwa manusia sempurna. Manusia sempurna sudah tidak terikat lagi dengan hukum-hukum aturan Tuhan untuk dunia ini, ia sudah bebas dari ikatan sudah dapat menembus kealam yang lain, sedangkan kesadaran diri manusia biasa tidak sanggup menembusnya. Manusia sempurna walaupun kelihatannya hidup seperti manusia biasa dalam hidup ini, tapi kesadaran jiwanya sudah lain.Ia tidak lagi dipengaruhi oleh ruang dan waktu, juga oleh yang lainnya yang bukan ruang dan waktu. Sebagai contoh misalnya keabadian, dimana keabadian itu hanyalah merupakan hukum yang tergantung daripada yang menghukumnya. Manusia sempurna hanya percaya kepada yang menciptakan hukum itu dan bukan kepada hukumnya itu sendiri yang sebenarnya tidak ada. Ada itu sendiri adalah hukum, demikian juga tidak ada, keduannya merupakan hukum yang bertentangan dalam suatu lingkungan hukum tertentu ialah hukum ada. Manusia biasa tidak dapat menyadari adanya selain dari pada yang ini, sedangkan mereka yang dapat menembus tabir-tabir kegaiban itu dapat menyatakan adanya ada yang macam lain, bahkan sampai bermacam-macam tingkat ada.

Demikianlah sehingga dapat dikatakan bahwa keadaan mereka itu sudah tak wajar lagi, sebab tidak lagi bisa diikuti oleh kewajaran yang biasa ini, sehingga orang bisa menyebutkannya sinting, mabuk ke Tuhanan atau kalap. Tetapi bagi mereka yang mengalami rupanya tidaklah demikian, mereka itu merasa biasa, bahkan lebih nikmat daripada orang kebanyakan, lebih jauh bisa meraih kenikmatan hidup ini lebih panjang untuk meresapi segala macam perasaan dan fikiran yang diciptakan oleh tuhannya. Tidaklah heran bila mereka sudah tidak mengherankan lagi dunia biasa ini, sebab dunianya sudah bertambah banyak, bahkan lebih baik dan mungkin lebih tinggi mutunya daripada dunia biasa ini.

Sebenarnya manusia itu mempunyai pontensi untuk menembus kesadaran biasa ini dan mengalami kesadaran yang lebih tinggi. Tetapi menembus kesadaran biasa ini merupakan hal yang berat, tidak segampang yang dibayangkan orang.Sedikit sekali orang yang sanggup mengatasi godaannya yang amat banyak dan berat serta berlapis-lapis seperti tidak ada habis-habisnya, lenyap yang satu datang yang lain, inilah yang disebut Jalan yang lurus.

Sebenarnya manusia tidak dapat berbuat sesuatu apapun bila tak ada pertolongan seluruh alam ini, bahkan manusia itu sendiri tak ada. Segala sesuatu itu sebenarnya tak bisa dipisahkan, apakah ia berwujud manusia atau bukan, walaupun krikil sebutir tidaklah dipisahkan seluruh alam ini.Oleh sebab itu tidak bisa dikatakan bahwa benda-benda itu satu persatu berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling ketergantungan satu sama lain sehingga seluruh alam ini tak dapat dipisah-pisahkan. Kalau mau kita pisah-pisahkan maka sebenarnya merupakan suatu tipuan daripada yang sebenarnya.Upamanya hidup dan mati kita tak dapat memisahkannya,Karena keduanya saling berhubungan bahkan sebenarnya merupakan satu kesatuan. Manusia biasa menyatakan dan menyakinkannya karena belum bisa melihat/menyadari tentang mati. Bagi mereka yang sudah bisa melihat, maka akan dijumpainya kesamaan antara hidup dan mati, yang tidak berbeda dan tidak ada hukum yang lain, yaitu hukum dari Tuhan.Peraturan yang dibuat begitu rupa sehingga kita tak dapat mengatasinya atau membuat gambaran macam lain. Maka kitapun terpaksa tunduk dan takluk, maupun tidak mau atau bisa tidak bisa.

Disini sebenarnya letak Berserah Diri, yaitu manakala kita yang dapat menyakini sesuatu, dimana sesuatu itu tidak dapat berbuat lain atau berkeadaan lain.Bila manusia telah menyadari hal yang demikian, sudah ada tanda-tanda akan kesanggupannya untuk meningkatkan diri dari kesadaran biasa kepada kesadaran selanjutnya, atau dengan kata lain sudah ada bakat yang tersedia untuk menyatakan alam yang lain atau ada macam lain selain ada yang biasa ini.maka segera akan dirasakannya bahwa hidup yang biasa ini dipalsukan atau hanya pulasan saja.

Kalau kita melihat orang-orang yang terhormat masing-masing berkendaraan mobil, sedangkan manusia sempurna melihatnya buka sebagai orang-orang yang terhormat atau manusia tetapi mungkin terlihatnya oleh hanya merupakan binatang yang hina yang berkendaraan mobil itu, misalnya anjing atau tikus.Manusia-manusia yang cantik yang terlihat oleh manusia biasa, mungkin terlihat oleh manusia sempurna hanya sebagai belalang,kelabang,semut.Pohon-pohonnan yang besar mungkin kelihatannya sebagai rumah gedung maupun istana dengan penghuni bermacam ragam, begitupun kuburan mungkin dilihatnya sebagai desa atau kota yang penghuninya lebih padat atau beraneka ragam keadaannya. Makalah tidaklah heran bila mereka itu tidak menghiraukan lain apa yang nampak lahir ini, tetapi masih dalam cengkraman hukumnya. Mereka belum bisa bebas untuk kembali menghadap tuhan.

Oleh karena manusia itu selalu memperturutkan kebutuhan-kebutuhan dunia, maka ia tidak akan bisa lepas daripada dunia ini daan terjerat dalam cengkraman dunia. Tetapi bagi mereka yang sudah bisa membebaskan dirinya, akan dirasakan kebebasan itu dan bahkan bisa berhubungan langsung dengan tuhannya. Barang siapa yang sudah mendapatkan anugrah ini maka sekaligus ia menjadi sempurna dan mulailah ia meningkatkan kecerdasannya kepada penerima wahyu, bukan kepada mencari ilmu pengetahuan yang ruang lingkupnya sangat terbatas, tetapi mereka mencari cahaya Tuhan. Cahaya tuhan itu adalah wahyu yang wujud petunjuk yang harus diturut sebagaimana mestinya.Pada waktu manusia menerima wahyu sebenarnya dunia ini menjadi tak ada baginya, yang ada hanyalah Tuhan saja.Tetapi taraf inipun bermacam-macam, tidak semua manusia pengalamannya tergantung pada tingkat dan bakat yang ada padanya.

Dalam menerima wahyu itu ada manusia secara gampang dan adapula yang berat/sukar. Bila kita misalkan sebaga sebuah muatan maka bagi orang yang kuat akan gampang saja mengangkatnya tetapi bagi mereka yang lemah mungkin tidak kuat bahkan rusak sewaktu menerima beban itu. Sebaiknya manusia itu belajar sendiri mungkin agar kuat menerima beban itu.Sebaiknya manusia itu belajar sedini mungkin agar kuat menerima amanat dan dapt memikul tanggung jawab yang penuh atas segala tindakan tansuknya agar bisa selamat kembali kepada Tuhannya.

Faham begini sebenarnya sudah sangat tua,sudah setua perikemanusiaan, tetapi sayang senantiasa manusia itu lupa tentang sejarah perkembangannya sehingga tidak mampu mengingatnya kembali.Sudah sangat jauh jalan ditempuhnya semenjak manusia ini berbentuk sebagai kerikil sampai kepada lumut, tumbuh-tumbuhan, binatang sampai berbentuk manusia , yang tidak kurang dari seribu delapan ratus macam jenis tingkatan sehingga akhirnya mencapai bentuk adam,manusia sebagai yang sekarang ini.meskipun telah mencapai tingkat manusia masih tetap mengalami perkembangan yang menuju manusia sempurna sebagai wakil tuhan dialam ini.

Keterangan pada manusia sempurna yang sedang mulai tumbuh, merata pada jaman sekarang ini, jaman yang sebenarnya sudah bukan jamannya lagi,sebab bagi mereka ialah bagi manusia sempurna jaman itu adalah waktu, dimana waktu itu hanya suatu hukum dunia yang disesuaikan dengan perasaan manusia yang juga hanya suatu hukum. Oleh karena itu bagi manusia sempurna jaman itu sudah berakhir dan yang ada hanya keabdian yang sebenarnya masih hukum pula, yang segalanya atas kehendak Tuhan.Manusia sempurna selalu berusaha mendekatkan diri untuk pulang kembali kepadaNya, menyerahkan diri, ialah menunggalkan atau tauhid.

602,014 unique visits theme rumput Oleh Ki Jantara